RSS
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan

OBYEK WISATA ALAM


1. Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser biasa disingkat TNGL adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia seluas 1.094.692 Hektar yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.

Taman nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser yang menjulang tinggi dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut di Nanggroe Aceh Darussalam. Taman nasional ini meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,pariwisata, dan rekreasi.

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu :

a. perlindungan sistem penyangga kehidupan;

b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;

c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pantai Pasir Terputih Ada Di Indonesia



Pantai Ngurbloat, pantai dengan pasir putih paling halus di dunia atau lebih dikenal oleh penduduk kota Tual dengan Pantai Pasir Panjang, terletak di Desa Ngilngof di bagian barat Pulau Kei Kecil. Pasir putihnya yang membentang sekitar 5 Km, ribuan pohon kelapa yang terhampar dipinggir pantai, air laut yang jernih membiru dan ombak yang tenang akan membuat anda betah berlama-lama ditempat ini. Kawasan ini masih sangat alami dan merupakan daerah wisata yang mudah di jangkau oleh penduduk di Pulau Kei ini.

Selain itu, warna pasir Pantai Ngurbloat ini putih cerah dan sangat lembut. Dalam kondisi mendung pun, pasir pantai tetap terlihat berkilau dan cukup menyilaukan mata. Pada saat kondisi panas terik, pasir pantai ini tidak ikut menjadi panas seperti pasir-pasir pantai pada umumnya. Kelembutan pasir yang ada di Pantai Ngurbloat diyakini masyarakat hanya dapat ditandingi oleh kelembutan tepung. Kondisi itulah yang membedakan Ngurbloat dengan pantai lainnya. Bagi wisatawan yang membawa anak balita, jangan lupa membawa peralatan untuk bermain pasir. Butiran pasir pantai yang halus menjadikan kulit terasa nyaman saat bersentuhan dengannya.

Di kawasan itu juga orang bisa berenang. Lokasinya cukup
aman dan luas karena Pantai Ngurbloat landai. Pulau–pulau kecil yang terletak berhadapan dengan pantai itu membuat ombak laut di pantai tersebut tidak terlalu besar dan arusnya pun tidak terlalu kuat. Sejumlah kamar di beberapa penginapan di sekitar situ disediakan untuk wisatawan yang ingin bermalam di tepi pantai. Penginapan–penginapan tersebut umumnya berupa rumah panggung ala tropis yang terbuat dari kayu. Pantai Ngurbloat yang terletak di pesisir barat Pulau Kei Kecil berjarak sekitar 20 kilometer dari Tual, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara. Daerah itu dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan ataupun angkutan umum yang berpangkalan di Pasar Ohoijang, Langgur. Perjalanan dari Tual ke Pantai Ngurbloat ditempuh sekitar satu jam. Terdapat seju
mlah perkampungan kecil yang letaknya terpencar–pencar di antara hamparan padang belukar.

Tanah di Pulau Kei Kecil yang berupa batu karang menyebabkan hanya tanaman jenis tertentu yang dapat tumbuh di sana. Jarang sekali ditemukan pohon–pohon besar dan rimbun. Untuk ke Maluku Tenggara sendiri, wisatawan dapat menggunakan pesawat terbang ataupun kapal laut dari Ambon. Perjalanan dari Bandar Udara Pattimura, Ambon, menuju Bandar Udara Dumatubun di Langgur ditempuh sekitar 1,5 jam dengan menggunakan pesawat berbadan kecil. Hampir setiap hari terdapat penerbangan dari Ambon menuju Langgur dengan maskapai yang berbeda–beda. Bagi yang gemar menggunakan angkutan laut, perjalanan dapat dilakukan dari Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, menuju Pelabuhan Tual. Perjalanan ini berlangsung sekitar 18 jam dengan menggunakan kapal penumpang milik PT Pelni. Waktu tempuh tersebut termasuk singgah sekitar dua jam di Pelabuhan Banda Naira. Namun, perjalanan laut ini biasanya hanya satu kali dalam satu minggu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rasakan Sensasi Bermobil Ke Flores


MENGAPA tidak mencoba berkendaraan terus ke timur? Berlibur dengan mobil ke Denpasar, Bali, sudah bukan sebuah kejutan. Seiring dengan tampilnya mobil-mobil anyar dengan kemampuan mesin hebat, perjalanan hanya ke Denpasar bukan lagi sebuah sensasi besar. Semakin ke timur dari Bali, sampai ke ujung timur Pulau Flores, jelas sebuah cerita tersendiri.

Perjalanan dari Denpasar ke Flores harus memperhitungkan feri antara Sumbawa dan Flores.

Berkendaraan dari Denpasar untuk tiba di Labuhan Bajo, Flores Barat, hanya memerlukan waktu satu setengah hari. Jarak yang ditempuh kendaraan hanya sekitar 738 kilometer. ”Jarak yang tertera di odometer ini juga setelah kami sempat salah jalan sejauh 70 kilometer selepas Sumbawa Besar,” ujar Medci Djogo, yang ditemui di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, awal April 2010.

Medci dan keluarganya menggunakan mobil Pregio keluaran KIA dari Jakarta untuk menghadiri perayaan Paskah ala Portugis di Larantuka. Mobil bermesin diesel dengan silinder mesin 2.700 cc ini membawa enam penumpang dari Jakarta. Tiga penumpang lain bergabung di Denpasar.

Jarak 738 kilometer dari Denpasar hingga Labuhan Bajo memerlukan waktu tempuh satu setengah hari karena mobil harus tiga kali menumpang feri, yakni feri antara Pulau Bali dan Pulau Lombok, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, serta Pulau Sumbawa dan Pulau Flores.

”Perjalanan dari Denpasar ke Flores harus memperhitungkan feri antara Sumbawa dan Flores yang hanya beroperasi satu kali sehari setiap pagi sekitar pukul 09.00 Wita,” ujar Steven, warga Jimbaran, Denpasar, yang ditemui di Labuhan Bajo. Agar bisa tiba pada pagi hari berikutnya di Sape, pelabuhan penyeberangan di Sumbawa, perjalanan dari Denpasar harus dimulai pada pagi hari.

Perjalanan hari Sabtu, 27 Maret lalu, dimulai pukul 10.00 Wita. Start pagi hari ini dilakukan mengingat waktu tempuh feri pada setiap penyeberangan. Feri beroperasi setiap setengah jam di Pelabuhan Padang Bai, di sisi timur Pulau Bali. Diperlukan waktu sekitar empat jam untuk sampai di pelabuhan feri Lembar, Pulau Lombok.

”Biaya penyeberangan per mobil Rp 555.000, sudah termasuk semua penumpang,” ujar Medci. Perjalanan dari Lembar hingga pelabuhan penyeberangan feri di Khayangan di ujung timur Pulau Lombok memerlukan waktu satu setengah jam. ”Perjalanan siang hari jadi harus ekstra hati-hati dengan kendaraan roda dua,” ujarnya. Pulau Lombok tidak terlalu panjang sekitar 80 kilometer.

Feri di Khayangan beroperasi reguler setiap satu jam. Muatan, termasuk mobil, yang semakin sepi membuat sejumlah feri hari itu tidak beroperasi. Dengan membayar tiket feri Rp 392.000, perjalanan feri siang itu sangat nyaman. Pulau-pulau kecil tak berpenghuni seperti muncul dari laut. Perjalanan sepanjang sekitar satu setengah jam pun terasa lebih cepat.

Pelabuhan feri Poto Tanos di ujung barat Pulau Sumbawa menjadi awal perjalanan sejauh sekitar 400 kilometer melintasi Sumbawa. Waktu pukul 18.00 Wita membuat pemandangan Pulau Sumbawa yang penuh teluk berair tenang tanpa gelombang praktis dilupakan.

Jurang dan tanjakan menghadang, terutama selepas Sumbawa Besar menuju Dompu, Bima, dan Sape. Pemandangan dengan laut di bawah jurang tidak terlihat. ”Jalan jelek sejauh puluhan kilometer selepas Sumbawa Besar. Mobil tidak bisa dipacu di atas 40 kilometer per jam,” ujar Medci. Terlihat ada upaya perbaikan dan pelebaran jalan.

Karena jalan jelek, ditambah sempat nyasar selepas Sumbawa Besar, mobil tiba di Sape lebih lambat dari jadwal feri. Beruntung, feri milik PT Dharma Lautan Utama yang sudah dikontak bersedia menunggu empat-lima menit. Perjalanan dengan feri selama delapan jam menuju Labuhan Bajo pun dimulai. Pemilik mobil kecil harus membayar tiket feri Rp 1,4 juta per mobil.

Sensasi perjalanan

Menyeberangi Selat Sape selama delapan jam sebenarnya tidak membosankan. Ada sejumlah pulau eksotik di sana. Pulau Sangiang dengan gunung api Sangiang setinggi 1.950 meter terlihat anggun. Juga Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan belasan pulau kecil membentang. Feri berlayar di antara pulau-pulau yang berserakan. Lumba-lumba mengantar di depan feri.

Feri juga diisi belasan wisatawan mancanegara yang hendak melihat komodo, naga raksasa di Pulau Komodo. Mereka biasanya menyewa perahu motor mewah yang banyak bersiap di Labuhan Bajo, Manggarai Barat, untuk membawa mereka ke Pulau Komodo.

Tujuan perjalanan adalah Larantuka. Pekan Paskah atau Semana Santa yang penuh ritual peninggalan bangsa Portugis yang tahun ini genap 500 tahun menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi, perjalanan ke Larantuka sejauh 500 kilometer menjanjikan banyak cerita.

Pulau dengan sekitar 10 gunung api ini membuat perjalanan tak pernah sepi dari tanjakan ekstrem, jurang dalam, dan tikungan tajam. Kondisi ini sudah ditemui di Roe, hanya 20 kilometer dari Labuhan Bajo. Mesin mobil meraung karena hanya bisa menggunakan persneling satu dan dua sepanjang 5 kilometer.

Syaril, pengemudi mobil ekspedisi asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengakui beratnya medan perjalanan di Flores. ”Tanjakan-tanjakan jalan di Flores sungguh berat, terutama antara Labuhan Bajo dan Ruteng,” ujar Syaril yang ditemui di atas feri saat balik dari Labuhan Bajo ke Sape.

Syaril baru saja membawa muatan keperluan pembangkit listrik tenaga uap di utara Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Medan jalan di Jawa dan Sumatera pernah dijalaninya. ”Tetapi, di Flores sungguh menantang. Mobil dan sopir harus semuanya sehat,” ujarnya. Namun, justru tanjakan, tikungan, dan jurang menjadi sensasi tersendiri. Mobil tak hanya mengandalkan rem semata. Pengereman dengan mesin (engine brake) mutlak. Mobil harus sehat, pengemudinya juga harus awas. Dan di sinilah sensasi mengemudi di medan jalan seperti di Flores.

Jurang, gunung, dan tikungan tajam menjadi pemandangan tersendiri. Tanjakan dan tikungan sejauh 31 kilometer dari Aimere ke Bajawa di Kabupaten Ngada menjadi kisah tersendiri. Di sisi kanan Gunung Inerie yang tinggi menjulang menjadi pemandangan menakjubkan lainnya. Juga Gunung Ebulebo di Kabupaten Nagekeo, dengan asap tipis dari puncaknya.

Nilai berharga dari semua ini adalah melihat Gunung Kelimutu dengan danau tiga warnanya yang kini menyajikan warna hijau tua, hijau muda, dan hijau gelap. Tak lagi merah tua, hijau, dan hitam seperti sebelumnya. Hanya perlu menyimpang 12 kilometer dari jalan raya Ende dan Maumere, mendaki menuju ketinggian 1.650 meter.

Selepas Moni, desa dengan tempat penginapan bagi para wisatawan, jalan berliku dengan sawah diputarnya, sebelum mencapai kawasan hutan pinus. Kali kecil tak berjembatan menjadi sensasi tersendiri. Mobil tak bisa sampai ke puncak melihat danau. Perlu jalan sejauh 3 kilometer pergi-pulang. Berada di puncak pada pagi hari sangat dianjurkan karena minim kabut.

Sebelum sampai ke Larantuka, bisa juga melihat gereja tua buatan Portugis di Sikka. Juga bisa mampir ke Nilo, melihat patung Bunda Maria ukuran raksasa, sebelum masuk kota Maumere. Sensasi Semana Santa di Larantuka menjadi cerita religius lainnya.

Apabila perjalanan berlangsung dari Jakarta hingga Larantuka, odometer memperlihatkan jarak 5.513 kilometer pergi dan pulang. Biaya bahan bakar solar sebanyak Rp 2 juta, sekitar 450 liter. Biaya penyeberangan pergi-pulang sekitar Rp 5 juta, termasuk feri Jawa-Bali. Untuk perjalanan sembilan penumpang termasuk cukup murah. Apalagi bisa mampir ke Kelimutu dan mengalami sensasi jurang, tanjakan terjal, dan tikungan tajam. Silakan mencoba sensasi jalan ke Flores. (Pieter P Gero)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEJARAH DANAU TOBA

Asal Mula Danau Toba - Sumatra Utara
Pada zaman dahulu adalah seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan ladang untuk keperluan hidupnya.

Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama ia memancing tak seekor iakan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu,tidak pernah dialami sebelumnya. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ketengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, Karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkannya, dan tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketika meninggalkan sungai untuk pulang kerumahnya hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.

Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tampak terhampar beberapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk kekamar.

Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena didalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri dihadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat wanita secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya kedapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan itu menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya myang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Anak itu sngat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.

Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunya yanng mengantarkan nasi ke ladang.

Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesl pergilah ia mengantarkan nasi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya diladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasinya itu. Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil mengatakan: “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”

Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya di ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.

Ketika tampak oleh sang ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS